sebuah kisah perjalanan yang kini telah begitu jauh dijalani, cinta yang
begitu rumit kepada 2 insan yang saling mencintai, begitu indah dan bewarna ,
namun begitu memiliki banyak tantangan, ini adalah kisah yang terjalin dari
cerita kemaren antara angga dan teta, kisah bermula dan waktu kembali mengulas
bayangan dari masalalu, sekilas waktu berputar mundur untuk menceritakan, ….
Saat angga yang menunggu teta pulang pada malam dimana teta tak kunjung
pulang dari kota sarudik sampai pagi menyinsing dan angga kembali masuk
kerumahnya, ketika waktu mulai memanggil, angga kembali pulang kekota medan
untuk melanjutkan studinya, disana angga mulai berbaur bersama teman
sekampusnya , hidup yang dijalani berputar seiring jalannya waktu, banyak
cerita yang mulai mendekat,pada waktu itu angga telah berada disebuah rumah
kakeknya yang berada dijalan pelita 4 medan, yang ditugaskan untuk menjaga
amanah, hampr setiap hari dia pergi dengan berjalan kaki menuju kampusnya karna
kondisi lokasi lintasan angkot yang biasa dia tompang begitu jauh, disana dia tinggal bersama kedua
adiknya, dan seorang kakaknya,serta bersama buk leknya yang akan dibahas dalam cerita keluarga ayahku banyak pengalaman yang didapat, bertolak
menjadi tukang parkir dan musisi yang selalu bernyanyi setiap malam, hahaha
tapi itu hanyalah sekedar intermezzo. Focus lagi kembali kecerita, dimana pada
bulan 7 ditanggal satu adalah hari ulang tahun teta, lama sudah mereka tak
berkomunikasi, pada moment tersebut tepatnya siang hari ketika angga sedang
asyik bersosial media lewat jaringan wifi dikampusnya, dan tiba-tiba teta mulai
melakukan pendekatan dengan menglike status di facebook angga, tetapi angga
menghiraukannya, tetapi teta terus melakukannya , pada hal angga tau itu adalah
hari yang special bagi teta, dengan sebah pesan di inbox ,angga mulai
mengirimkan sebuah kata ucapan selamatnya,dengan memakai sebuah nama penghantar
untuk sebutan pada kisah cinta mereka yang bertuliskan “selamat ulang tahun
teta” kemudian tetapun membalas,”ternyata masih ingat yach dengan namaku” waktu
yang berlalu membuat hari pun terus berjalan
dari kejadian itu angga tak pernah menghiraukan teta, tetapi siteta
terus melakukan like pada status angga, tiba pada saat bulan 12 dimana angga
mengirimkan pesan pada inboxnya untuk meminta nmr ponsel teta dengan alas an
kangan berkomunikasi, dan teta langsung memberikan nmr ponselnya, tetapi angga
masih melihatnya, menghapusnya tetapi menuliskannya lagi di ponselnya, pada sekitar
bulan satu kampus mulai mengadakan perjalanan wisata untuk penutupan acara
tahun baru kesebuah danau, tepatnya pukul 12 malam angga mengirim pesan singkat sapaan kepada
teta, dan teta membalasnya berselingan dengan misliana dewi yang berada pada cerita kisah cinta beda agamaku 2 minggu
dikota medan , teta menjawab “maaf
yach angga hpku kutinggalin di lemari,hari lepas hari dan seiring berjalannya waktu angga mulai menanyakan hal yang bisa
dilakukan untuk berkomunikasi mendekatkan diri, menanyakan apa kabar, lagi apa,
udah makan , dan banyak lagi, disekitar bulan 2 anga mulai menuliska statusnya
janjikan aku yang indah malaikat untuk kejelasan dibulan 2, tak lama kemudian
teta mengirimkan pesan, aku lagi kesepian, tetapi angga tidak memahami arti
perkataan teta , sehingga angga kembali menanyakan ,apakah pacarmu tak marah
kita smzan,dan teta pun menjawab aku tak punya pacar lagi, ( padahal dia masih
menjalani hubungan dengan pacarnya berman ) angga mulai mengirimkan pesan untuk
mendekatkan diri, dengan kata puisi dan kata rayuan, tepatnya dibulan 2 angga
memutuskan untuk kembali kekampung halamannya , pada waktu itu angga hadir ,
dan sampai dipagi hari, tetapi teta tak mempercayai bahwa angga akan hadir,
saat dirumah angga duduk sendiri menatap desa, tiba-tiba angga melihat teta
datang dengan di bonceng temannya , angga member pesan singkat via selular,
bahwa dia telah hadir didesa, tetapi dengan senangnya teta membalasnya, tak
lama kemudian , teta bersama temannya pergi lagi kesebuah tempat, disana
terdapat suasana duka, mengingat salah seorang temannya teta sedang mengalami kemalangan,
yaitu orangtuanya meninggal, teta member pesan kepada angga , agar angga
menjemputnya, dengan senang hati anggapun menurutinya, dan mereka berjumpa
disana, dengan senang sambil menatap teta yang duduk , angga memberanikan diri
menatapnya setelah berbaur dengan acara , dan tibalah saatnya untuk pamitan ,
teta pun mengajak angga pulang, tetapi angga belum bersedia pulang, dan mereka memutuskan untuk pergi kesebuah
tempat, yaitu sebuah pantai, tapi keinginan mereka tidak bisa di penuhi, karna
dalam kondisi yang masih lapar, setelah
berputar-putar , teta dan anggapun berhenti disebuah rumah makan, disana teta
dan angga duduk , angga memesan 2 mangkok bakso dan 2 the manis , dengan saling
grogi, mereka pun saling mencuri-curi pandang antara yang satu dengan yang
lain, setelah teta dan angga selesai
makan mereka pun bergegas pulang mengingat hari mulai sore dan angga takut
ibunya teta marah, tampa sadar angga
lupa membayar uang parkir , sehingga tukang parker memarahi mereka, dengan
begitu angga dapat mendamaikan suasana sehingga mereka bisa pulang dengan
damai, sepanjang perjalanan teta mengingatkan angga akan kejadian tadi, tetapi
angga dengan tenang menjawab, “itu bukan masalah dosanya lah itu adx, sesampai dirumah mereka berpisah
ditengah-tengah, tetapi kelewatan angga membawa teta menuju rumahnya. Hari hari
yang dilewati begitu menyenangkan, karna dalam masa ini mereka masih saling
mengenal dan saling berjuang untuk mendekatkan diri, setelah semua nya itu angga kembali kekota
medan, disana hari-hari angga mulai berwarna , karna dia merasa ada yang
menemaninya , smzsan dan menemaninya
dalam melewati waktu diperantauan , suatu ketika angga memberitahukan kepada
teta untuk jumpa di kedai dan bernyanyi
ketika malam didepan rumah tepat tanggal
3 maret dimana hari itu adalah hari yang special, moment indah sewaktu dibukit
anugrah, angga hanya memiliki satu minggu untuk menepati janjinya selama mereka
berkomunikasi pada jarak jauh, yaitu menghantarkan teta latihan
gereja,menantinya pulang sekolah,bermain dan benyanyi bergitar didepan
rumah,bermain layangan begitu banyak petualangan yang mereka lakukan untuk
menghabiskan waktu 1, bermain disebuah permandian yang terdapat di kota
tapanuli tengah , angga yang mengendarai sepeda motor dan teta yang berjalan
kaki bersama sahabatnya sejauh 4 KM menuju kediaman kos-kosan temannya teta,
dalam perjalanan angga yang dengan santai mengendarai speda motor hanya mampu
menatap kekasihnya berjalan , untuk mengulur waktu angga singgah disebuah kedai
untuk membeli minuman ,karna perjalanan yang teta lakukan terlalu jauh, setelah
teta terlihat angga kembali menantinya disebuah sekolah smp 1 sarudik sambil
merenung angga mananti teta lewat sampai suatu ketika teta lewat dan perjalanan
mereka sampai ketujuan, dalam kondisi suasana yang panas teta dan temannya
asyik bercerta, dengan tenangnya angga hanya duduk melihat mereka, sampai suatu
ketika percakapan selesai dan akhirnya mereka bubar menuju rumah masing-masing,
teta pun mengajak angga untu segera pulang, dalam kondisi panas hari teta dan
angga pulang ke desa dan singgah disebuah kedai, disana mereka berfoto-foto dan
bercerita . 1 minggu dikampung halaman untuk mewakili hari-hari yang teta jalani mulai dari teta cabut
sekolah, teta member pesan kepada angga untuk bertemu dipermandian pondok
bambu, tetapi angga tak ingin menurutnya , hingga suatu ketika teta member
pesan untuk menjumpainya disebuah di blakang rumah, ternyata setelah itu angga
langsung bergegas dan menjumpai teta , teta yang masih dalam masah kenakalan
cabut bersama teman-temannya dan duduk diblakang rumah, sambil bercerita angga
hanya bisa menatapnya sambil bertatapan teta dan angga pun saling memfoto
diam-diam setelah usai teta dan teman-temannyapun bubar dan menuju rumah teta,
angga yang masih dalam keadaan polos terdiam dan pulang menuju rumah, sambil
sekali-sekali menatap teta dari jendela , dan teta juga menatapnya,. , sampai
suatu ketika angga harus kembali lagi kekota medan, dan mereka berjanji untuk
bertemu dikedai tersebut,pada saat malam angga pamitan untuk pulang kekota
medan dan memberi kecupan pada kening teta, dan teta mulai merasa senang, pada
hari minggu sore teman angga tiba dirumah angga untuk berkunjung mereka
mengadakan rencana untuk bermain kesebuah permandian di hutanabolon, angga
mengajak teta, tetapi teta tidak memiliki waktu karna kesibukan yang biasa teta
lakukan digereja, tiba-tiba teta memberikan sebuah pesan singkat untuk
meminjamkan gunting angga kepada teta, angga kemudian menghantarkannya
kegereja setelah itu pergi ke tempat permandian tersebut, setelah pulang dari
sana , teta yang menunggunya duduk di dekat sebuah jembatan, tetapi angga hanya
melihatnya sekilas, angga mengemasi barangnya karna dia harus berangkat
mengingat jadwal prkuliahan yang akan dia tempuh semakin mendesak, yang
mengharuskannya untuk segera berangkat kekota medan, setelah sebuah barangnya
dikemasi angga menanti teta untuk datang kerumah angga, agar angga bisa
berpamitan senja mulai tiba dan teta enggan untuk datang, tetapi angga masih
menunggunya hingga malam mulai tiba, tetapun berani melangkahkan kakinya dengan
alasan untuk mengembalikan gunting yang dia pinjam, dengan langkah perlahan
angga pun dengan senyum menatapnya, dengan berayun di bawah pohon jambu mereka
pun mulai bertatapan dan bercerita untuk kata perpisahan lagi, tiba-tiba angga
meminta sesuatu pada teta, dan perlahan membisikkannya , dengan perlahan teta
mendekat dan mulai mengerti permintaan angga tersebut yaitu sebuah ciuman pada
pipi sebelum angga berangkat, dengan cepat angga langsung bergegas ke terminal
dengan mengendarai sepeda motor bersama untuk diantar temannya sesampai dikota
medan angga melakukan tugasnya untuk bersekolah, hari yang dijalani semakin
mempererat perasan cinta yang terjalin begitu kuat, pada tanggal 31 maret teta
dan angga menghadirkan sebuah cerita dimana kisah risha dihadirkan sebagai
teman untuk menemani mereka dalam melewati waktu,
risha yang bernama lengkap crishan novelia pakpahan tumbuh ditengah-tengah mereka sebagai anak khayalan perempuan yang memperkokoh hungungan cinta pada jarak yang begitu jauh, mulai dari risha berumur 1 hari mereka mulai berperan menjadi kedua orangtua yang baik untuk mengurus risha, setiap hari ayah dan ibu risha mulai belajar dan melakukan tugas dan tanggungjawab mereka ,wlaupun hanya sebatas anak khayalan pada jarak yang jauh, mereka bercerita muai dari makanan, tanggungjawab masing masing sampai liburan ketaman kota , memont yang paling indah ketika teta dan angga sibuk ingin berpergian kegereja dan mengurus bayi mereka untuk menghadiri sebuah acara paskah yang mengharuskan mereka bermalam digereja, dengan penuh rasa tanggungjawab mereka melakukan peran dan tugasnya sebagai orang tua yang baik, angga yang menemani teta sambil menatap layar mendampingi tetanya untu begadang digereja, karna eta tidak bisa tidur akibat banyak nyamuk digereja, sampai waktu menunjukkan pukul 5 pagi dan teta pun tertidur , tetapi angga masih tetap menatap layar untuk mengerjakan tugas perkuliahannya, setelah setalh pukul 6 teta kembali terbangun untuk melaksanakan acara didalam gereja, hari berikutnya teta dan sekumpulan anak2 sekolah minggu mengadakan perjalanan perlombaan ke sebuah desa, tetapi teta lupa membawa ponselnya, sehingga angga merasa curiga , dan terjadi sebuah kecemburuan, tetapi teta meyakinkan angga bahwa semua baik-baik saja, karna jaringan selular yang tidak terjangkau ditempat tersebut, sekitar bulan april 2015 angga kembali pulang kekampung halaman mereka mulai menjalani hubungan yang resmi didepan orangtua dengan status pacaran,, mereka bermain dan nongkrong di gereja,kedai dan menghabiskan waktu untuk berdua ,pada suatu sore angga mengajak teta untuk pergi berjalan-jalan menuju sebuah tempat di desa sipan sihaporas, mereka berjalan melalui persawahan dengan speda motor, dan akhirnya sampai disebuah tempat di ujung tebing ,yang dibawahnya mengalir sebuah sungai pembangkit listrik, mereka mulai bercerita bahwa aka nada sebuah perpisahan diaman teta akan pergi kesebuah kota di Bengkulu, kemudian angga termenung dan sejenak melamun menatap tetanya, saat sore tiba teta mulai mengajak angga untuk pulang , tetapi angga masih menolaknya, karna angga masih ingin berlama-lama merenung dan menatap indah pemandangan, , tetapi waktu semakin larut, teta kembali menyuruh angga pulang, karna angga tau ibu kekasihnya adalah seorang pemarah, dan tiba-tiba teta mengatakan , “perempuan nya abg’ dan angga menjawab, “tidak” teta kembali mengajukan pertanyaan itu, dengan berfikir panjang, tetapi tau bahwa sebenarnya kekasihnya tidak polos lagi, dan mulai merenungkan perkataan itu, angga mulai memberikan kekasihnya kecupan pada bibirnya, , dengan rasa gembira mereka kemudian pulang, menjelang malam tiba teta menanti angga untuk menjemputnya disebuah gereja dan angga tiba dan masuk kedalam gereja tersebut, untuk menemani tetanya melaksanakan tugasnya, ketika acara telah selesai mereka pun tinggal berdua dalam gereja , teta mulai memebereskan semua pkerjaannya untuk menyusun dan merapikan segala perlengkapan dan peralatan dalam gereja, setelah semua selesai merekapun memutuskan untuk pulang kerumah, tetapi angga membawa teta untuk berhenti tepat didepan rumah angga,dan kemudian teta memberatkan langkahnya untuk pulang terlebih dahulu kerumah, sehingga memberanikan diri untuk singgah sebentar di depan rumah angga. Mereka bercerita, teta yang terbaring disebuah ayunan dengan menikmati indahnya pacaran, ketika angga mulai mendekati tetanya , tiba-tiba ibu teta mulai keluar, dan mulai marah-marah, mencari kemana putrinya, walaupun ibunya melihat mereka didepan rumah tetapi ibunya berpura-pura tak melihat, karna takut rebut karna ulah mereka, setelah terlihat jauh , teta mulai beranjak dari ayunan dan kabur menuju rumahnya, dan angga masuk kedalam rumahnya, tak lama terdengar suara rebut pada rumah teta yang menandakan ibunya telah pulang dan mulai memarahinya, dengan merasa bersalah lagi, angga pun keluar menuju sebuah kedai, sesampai dikedai angga melihat kumpulan anak muda desa melakukan acara kumpul, untuk meminum nira, dan angga pun ditawarkan untuk bergabung, dan dengan senang hati angga menerima tawaran tersebut dan mulai meminumnya dengan cepat, melihat ada sesuatu yang kurang untuk sebagai makanan lalapan , angga berfikir dan mulai mencari ide untuk mengambil 1 ekor ayamnya yang berada di depan rumahnya , dan dengn dibantu seorang temannya angga bergegas pergi dengan mengendarai sebuah sepeda motor, sesampai dirumah, angga langsung sigap memanjat pohon dan mengambil ayam tersebut dengan cepat,dan dengan suara mesin yang di gas kencang teman angga langsung menanti dan angga langsung pergi menaiki speda motor tersebut, tetapi kakak angga langsung berteriak maling, sesampai di tempat perkumpulan angga langsung memberikan ayam trsebut agar di olah menjadi makanan saji, waktu semakin larut 5 gelas pun tak terasa telah habis diminum, setelah semua telah habis , perkumpulan tersebut pun bubar, jam semakin larut, tetapi angga memutuskan untuk tidak pulang kerumahnya, dia dan temannya pergi bermain ke kota sibolga, dan pulang pagi kerumah, hubungan pun semakin renggang antara angga dan teta akibat ulah mereka yang membuat kemarahan terjadi pada ibunya teta. Waktu yang berlalu, dan begitu banyak pengalaman yang tertuang didesa, waktu mengharuskan angga untuk pulang ke kota medan, angga tau ketika dia beranjak dari desa aka nada hati yang kesepian tertinggal didesa,pada hari sabtu angga mengajak teta untuk pergi berjalan-jalan kesebuah tempat yang telah dia kunjungi terlebih dahulu , yaitu sebah tempat yang berada pada atas bukit jalan baru
, tetapi teta yang merencanakan untuk pergi ke kota Bengkulu masih berada di kota sibolga untuk membekali keberangkatannya kerantau tempat dia merantau yaitu kota Bengkulu, angga mengirimkan pesannya untuk berjumpa, dan teta pun membalasnya agar angga menunggunya di seminari yaitu sebuah tempat tembat kakaknya teta bekerja , dengan sabar angga menunggu dan melihat teta menghampirinya dengan sebuah koper . dengan cepat mereka langsung memutuskan untuk bergegas pergi ketempat yang telah mereka rencanakan , sesampai disana mereka mulai merenung sambil menatap diatas ketinggian, hujan gerimis mulai membasahi baju mereka berdua yang bersedih untuk menghadapi masa perpisahan dalam kurun waktu yang lama, dengan saling bertatapan mereka mulai berjanji untuk sama-sama cepat kembali dari perantauan, haripun mulai senja , angga memutuskan untuk segera pulang, karna dia akan segera berangkat lagi kekota medan, dengan rasa sedih tetapun tak ingin melepaskan angganya , karna hari yang tak mendukung , serta hujan yang begitu lebat, angga memutuskan untuk tidak berangkat pada malam itu, dan mulai mengirimkan pesannya bahwa keberangkatannya ditunda, teta yang menerima kabar, merasa gembira , pada keesokan harinya tepatnya mereka tidak pergi , dan seharian hanya dirumah, dan malam pun menjelang dan angga kembali kekota medan,diperjalanan angga mengalami sebuah masalah yaitu kehilangan dompet, tetapi masalah itu bukanlah menjadi suatu hambatan untuk keberangkatannya,karna dia menyisipkan uang sebagian pada kantong bajunya , untuk sebagai pertahanan selama dalam perjalanan,sesampai di terminal makmur medan teta mulai mengirimkan pesan menyatakan bahwa hatinya telah damai angganya sampai dengan selamat kekota medan, walaupun hati menjerit menerima kenyataan akan terjadi perpisahan dalam jarak yang begitu jauh, hari mulai menjelang terang pukul 6 pagi angga mulai sarapan dan langsung pulang menuju kediamannya, saat siang menjelang sekitar pukul 12 teta mulai mengirimkan pesan bahwa dirinya akan seera berangkat menuju kota perantauannya di Bengkulu, dengan merasa bersedih angga pun mulai merasakan sakitnya ditinggalkan dengan jarak yang jauh, tetapi angga meyakinkan teta untuk tidak pergi, dengan perasaan kuat teta tetap melanjutkan perjalanannya, sebelum berangkat ibu angga menunggu teta untuk berpamitan, tetapi teta belum berani untuk mendekati ibunya angga, karena rasa segan mengingat ibu angga adalah mantan gurunya di SMP, setiap waktu angga tetap menemani teta diperjalanan, sampai ketika teta sampai dikota sedempuan pada sore hari, angga yang memiliki firasat langsung member pesan kepada teta , agar dia berhati-hati terhadap tingkah supir yang membawanya ke kota tujuannya, tetapi teta meyakinkan angga untuk tidak cemas, dan mengihklaskan bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi angga terus berjaga, sampai suatu ketika hari menjelang malam tepatnya pukul 12 angga memiliki firasat buruk dan menangis bersedih seiring berdoa kepada kekasihnya . sedih yang ditemani hati yang gelisah, ketika perjalaan teta mendapati kota padang, supir mulai mengulah dengan tingkah nakal dan melakukan pelecehan terhadap teta, tetapi teta masih tertidur, berkali-kali angga menelpon dan memngirimkan pesan tetapi belum ada jawaban, setiba sampai di kota padang, mobil yang dikendarai teta berhenti untuk beristirahat, angga tetap menemani tetanya diperjalanan dengan ditemani kopi dan menatap layar, kemudan teta memberi pesan bahwa dia dilecehkan dalam perjalanan, angga yang merasa penuh amarah ingin marah dan segera mendapati teta, tetapi tidak bisa dia lakukan, karna jarak dan tempat yang begitu tak memungkinkan,angga mulai memberikan nasehat,agar teta bisa bersifat tegas untuk memarahi supir tersebut, dan mengancamnya kepada petugas loket,dan teta menurutinya, ketika hari mulai terang menjelang pukul 6 pagi teta pun melewati kota padang dan sampai di kota Bengkulu, dan angga yang tertidur terbangun dan memberikan pesan bahwa rohnya telah mendahului teta tiba disana dan menitipkan teta kepada abangnya yang berada ditempat kerjanya disana, dan mengatakan abg tidur dulu yah sayang , hari sudah terang, semua pasti akan baik-baik saja, tak lama kemudian angga terbangun dan mobil yang dikendarai teta berhenti untuk beristirahat lagi disebuah pantai , dan pukul 1 siang teta sampai dikota perantauannya yaitu di dusun V kecamatan air dikit muko-muko, dan disambut oleh keluarganya, angga yang berada dikejauhan pun melakukaan aktivitasnya seperti biasa,hari berlalu begitu cepat, mereka saling bercerita satu dengan yang yang lain tentang aktivitas yang mereka lakukan di tempat perantauan mereka, namun mereka memiliki kendala karena kondisi jaringan selular di tempat keberadaan teta yang kurang memungkinkan, sapaan dari social media yang hanya di lemparkan seminggu sekali, ditempat perantauannya teta bekerja sebagai seorang asisten di studio photo, pergi pagi dan pulang malam, kediaman teta berada disebuah dusun terpencil yang jauh dari perkotaan yang memiliki penduduk yang minim dan mayoritas di tempati oleh orang dari suku batak, teta dan angga selalu berkomunikasi walaupun terkadang lama untuk membalasnya akibat gangguan jaringan,hari-hari yang dijalani teta penuh dengan kesendirian.. air yang susah didapatkan dan penghuni rumah yang
mayoritas laki-laki pekerja yang bila pulang malam dalam kondisi mabuk, tetapi
walaupun begitu teta juga sering bermain jika minggu telah tiba dan pergi menuju kesebuah pantai yang terdapat dikota
Bengkulu, perjalanan indah bersama rekan kerjanya dan juga keharmonisan
berkeluarga dari sanak family yang menaunginya disana .
suatu waktu teta menginginkan pulang dengan alasan kangan terhadap orang tuanya, serta terkena gangguan spiritual ,lalu dia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya yang belum genap 1 bulan, dengan buru buru teta meninggalkan tempat itu untuk segera pulang kekota sibolga, sesampai dikota sibolga dia bertemu dengan orangtua serta sanak saudaranya, dan menghabiskan waktu bersama keluarga disibolga, tak lama dikota sibolga , tepatnya hanya sekitar 4 hari, seorang guru meminta permohonan kepada teta untuk bersedia dipekerjakan si rumah guru tersebut sebagai penjaga bayi (baby sister) dikota medan dengan senang hati teta menuruti permintaan tersebut mengingat karna pacarnya angga berada dikota itu juga, kemudian teta berkemas tampa persiapan apupun untuk pergi kekota tersebut, saat menuju ke kota tersebut kemudian teta mengabarkan kepada angga bahwa dia telah berangkat kekota medan,dengan senang hati, angga menanti tetanya tiba,sesampai dikota medan, teta langsung dipekerjakan dirumah tersebut sebagai penjaga balita, kemudian angga memberikan pesan bahwa dia akan datang untuk melihat teta kesana, tetapi teta menolak karna merasa segan baru sampai masih hari pertama disana, keesokan harinya kemudian angga mulai berkunjung ketempat teta bekerja bersama temannya Wesley simbolon (sesok teman angga yang tertulis pada cerita masalalu mengulah) angga dan temannya berputar berkeliling sepanjang kota medan dan menemukan alamat keberadaan teta yang berada pada jalan bunga sedap malam 10,dengan perlahan mereka mulai mencari alamat nomor rumah itu sampai ketemu, angga mengirim pesan kepada teta agar teta bisa keluar menemui angga, tetapi teta membalasnya agar angga yang datang masuk kedalam, dengan rasa berani angga kemudian masuk dan mengucapkan salam, angga melihat teta dan terkejut melihat kekasihnya yang begitu berubah, dengan rasa kangan mereka kemudian duduk di ruang sambil menonton dan bercerita, waktu yang berlalu membawa malam larut, angga dan temannya wesley memutuskan untuk kembali pulang, beberapa hari kemudian teta mengirim pesan agar angga datang lagi ke tempat tersebut, dan angga pun tiba dengan sendiri dengan membawa makanan cemilan, ternyata pemiik rumah tersebut masih berada diluar untuk urusan kerja, teta dan angga duduk bercerita sambil menonton serta menjaga balita.waktu kemudian beranjak sore dan angga berpamitan untuk pulang, sesampai dirumah teta dan angga berkomunikasi dan teta meminta kepada angga untuk membawanya kain sarung sebagai selimut tidurnya, pada suatu saat teta dan angga berniat untuk melakukan refresing berjalan-jalan disekitar kota medan dan mereka mulai merencanakan siasat untuk pergi bermain keluar rumah tempat teta bekerja , kebetulan seorang teman teta sedang berada dirawat dirumah sakit pringadi medan karna keadaan luka bakar serius , pada hari minggunya tepatnya 08 agustus 2015 teta berkata agar angga menjemputnya ditempat kerjanya, dengan alasan kepada pemilik rumah untuk membesuk teman teta dirumah sakit, dengan rasa senang angga pun tiba menjemput teta, dengan waktu yang begitu lama teta yang berdandan dan angga yang tiba dengan membawakannya kain sarung, dengan mengucap pamit mereka pun pergi dari rumah , sesampai pada tujuan teta dan angga memutuskan untuk tidak pergi kerumah sakit, akibat belum memiliki apa-apa untuk buah tangan membesuk temannya teta, dan angga pun mengajak teta menuju kediamannya yang berada di pelita 4 mereka mulai, pada sekitar tanggal 18 agustus 2015 , teta dan angga mulai hidup bersama tapi masih tampa ikatan,
dengan berbagai cara serta dengan berbagai alasan mereka mengatur
rencana untuk menenangkan hati orangtua dan menjaga semua rasa khawatir
orangtua mereka dan memastikan bahwa semua baik-baik saja, hari pertama teta
yang dengan rajin membersihkan rumah menyapu dan mengepel tetapi
angga membanjiri kamar mandi, sampai air meluap dan
memenuhi rumah tersebut dengan limpahan air tetapi walaupun begitu teta
dan angga tetap membersihkan rumah dan menyelesaikan pekerjan rumah dengan baik . saat
angga sedang kuliah teta menjaga rumah, dan angga juga berjuang untuk mencari
pekerjaan kepada tetanya, tetapi tak kunjung ditemukan,mulai dari menjatuhkan
lamaran disebuah supermarket, rumah makan hingga ke mall serta pusat perbelanjaan dikota medan, tetapi panggilan
kerja tak kunjung tiba , berbulan- bulan waktu berlalu tetapi teta tak kunjung
mendapatkan pekerjaan kecuali disebua tokoh obat herbal yang kemaren yaitu sebuah tokoh yang berada di jalan kapten muslim di jalan budi luhur medan , dengan
kekwatiran orangtua tetapun mengambil inisiatif untuk segera menjemput teta
dari kota medan, mereka mengutus sanak saudaranya untuk datang mewakikan, dia
adalah Kevin, seorang yang selalu datang memantau dan memastikan keadaan teta
disana, tetapi teta tak kunjung berniat untuk pulang, berkali-kali keluarganya
menghubunginya sampai pertengkaran dan perpecahan pun terjadi pada hari berikutnya teta dan angga juga pergi kerumah
sakit untuk membesuk temannya itu, yang berada di RS pringadi medan, dia adalah
temannya teta seorang guru sekolah minggu yang badannya terkena luka bakar
akibat merayakan acara ulang tahun , 2 kali pertemuan pulangnya dengan berjalan
kaki menyelusuri jalan setapak dan gang-gang sempit untuk menuju rumah,
kebiasaan teta yang paling menonjol adalah rewel dan suka makan bakso, walaupun
keuangan menipis ,dia tak tau pandangan pertama dulu angga hanya memintanya mie
tek-tek,(yaitu mie khas buatan pesisir sibolga), teta selalu melaksanakan
tugasnya dengan bangun pagi, menyuci dan memasak, membersihkan rumah, sedangkan
angga kekampus membersihkan halaman, tetapi saat menjelang pagi mereka selalu
berbelanja sembako dan kebutuhan rumah bersama-sama kepasar untuk memenuhi
kebutuhan didalam rumah, layaknya yang pacaran hari-hari yang dijalanipun
menjadi terikat, jika mereka jenuh mereka selalu merenung di atas genteng untuk
menatap kota medan dari ketinggian, menghabiskan waktu dengan jajanan dan the
manis dingin , Ketika teta mulai
jenuh dengan keadaan , teta meminta kepada angga untuk mencarikannya pekerjaan
, pada hari pertama teta dan angga mengitari kota medan dengan berjalan kaki, ,
berbagai sumber dan lowongan mereka cari , tetapi peluang kerja belum juga bisa
ditemukan. Hari-hari yang dilalui penuh dengan kesedihan , dimana teta dan
angga harus berjalan kaki, pada suatu saat angga meminta kepada teta untuk
memotong rambutnya, dengan perasaan yang berat teta tidak berani memangkas
rambutnya, tetapi angga tetap memintaanya , karna angga yang rindu melihat teta
dimasa SMA, dengan berat hati teta bergegas menuruti keinginan angga , dengan
perlahan melangkahkan kaki pada sebuah salon di kota medan, setelah proses
pemotongan rambut selesai, angga mengajak
teta untuk nongkrong makan bakso , lalu kemudian mereka pergi kekampus tempat angga
bersekolah, setelah selesai dari kampus mereka langsung pulang kerumah, dengan
membawakan sebuah koran, dengan perasaan yang begitu kecewa , teta mencari, informasi
pada sebuah koran, dan menemukan sebuah informasi pekerjaan disana, yaitu pada
sebuah toko obat herbal , kemudian pemilik lowongan tersebut memberikan sebuah
konfirmasi dan menyediakan layanan pekerjaan , tetapun dipanggil untuk proses
wawancara, pada keesokan harinya angga langsung menghantarkan teta ketempat pekerjaan
tersebut, dengan menaiki angkot , dengan penuh pertanyaan teta langsung
diterima untuk bekerja, tapi , dengan kondisi yang pada saat itu ,teta tidak
bisa menjanjikan akan bertahan lama di tempat pekerjaan tersebut , akibat
ekonomi yang kurang mencukupi. Tetapi angga terus menyakinkan bahwa peluang itu
pasti ada, pada saat siang hari setelah selesai dari proses interview teta dan
angga langsung pulang ,dan angga kemudian
mengajak teta kembali untuk duduk diatas genteng rumah, dengan penuh beban dan
pertanyaan dari orang tua, teta tetap bersikeras untuk tidak pulang dulu, tibalah saatnya angga memiliki waktu luang, ,angga pun memenuhi kebutuhan orang tua teta untuk segera pulang, teta
dan angga berangkat dengan menggunakan bus dan dengan uang seadanya, sesampai
dikampung mereka langsung pisah dan menuju rumah masing-masing, teta meyakinkan
ibunya bahwa ada peluang untuk sebuah pekerjaan di kota medan tapi memiliki
sebuah persyaratan administrasi yang harus di tunaikan, dengan keraguaan ibunya
teta memanggil angga dan angga kemudian meyakinkan ibunya bahwa peluang
itu benar ada, 2 hari teta dan angga dikampung dan mereka hidup seperti biasa
dan jarak yang terpisah , setelah waktu berlalu teta dan angga kemudian
bergegas untuk kembali kekota medan dengan mengendarai sepeda motor yang di
angkut di atas bus, sesampai dikota
medan , perasaan mereka begitu damai, karna izin yang mereka terima begitu
indah dari orang tua, teta dan angga
bergegas untuk pulang kerumah, dengan santai dalam suasana pagi yang indah,
mereka mengitari kota medan dengan tenang, karna terlalu banyak jalan pintas
mereka kesasar, dan menuju luar kota, tetapi dengan tenang angga menggunakan
kompas nurani, dan akhirnya mereka sampai juga kekota medan lagi, dan perlahan
menyelusuri jalan dan akhirnya sampai dirumah, saat dikota medan peluang kerja itu tetap juga tidak kunjung ditemukan,
sehingga mereka kewalahan karna mengecewakan kepercayaan orang tua, hari-hari
yang dilalui pun berubah menjadi begitu rumit berbagai masalah timbul tampa
dimengerti, dan pekerjaan teta tak
kunjung ditemukan, kecuali ditoko
obat herbal, hari pertama jalan-jalan tepatnya tanggal 22 agustus angga mengajak teta
untuk berjalan-jalan mengelilingi kota medan , dengan santai mereka bercerita
tetapi diperjalanan mereka tak sadar sudah sampai dikota mana, suasana malam
dan gerimis yang mencekam pukul 10 teta mulai tak nyaman dan mulai memarahi
angga karna penyakit perutnya kembali kambuh, tetapi angga tetap meyakinkan
teta bahwa semua akan baik-baik saja, dipertengahan jalan angga langsung
mengambil jalan pintas dan singgah disebuah kedai untuk minum, dan angga
melihat kota lubuk pakam dan berfikir medannya ntah sudah dimana,setelah
selesai minum angga mengajak teta untuk bergegas berangkat tetapi teta mulai
rewel lagi di blakang, dengan tenang angga menyelusuri jalan , dengan suasana
gerimis akhirnya sebuah titik mulai ditemukan yaitu simpang kualanamu , dan
anggapun mengambil jalan pintas dari tanjung morawa, serta singga di SPBU untuk
mengisih bensin kemudian bergegas berangkat, sesampai dikota medan mereka pun
mulai tenang, hujan deras dipukul 12 malam mulai membasahi mereka, dengan sisa
jajanan permen karet mereka menyelusuri kota dan sampai dirumah dengan suasana
halaman rumah yang banjir akibat diguyur hujan. , pada hari
berikutnya teta dan angga berjalan-jalan kesebuah mall dikota medan, dengan
meneliti setiap toko yang ada, dan berharap sebuah lowongan di tempelkan
disana, setelah seharian berkeliling , akhirnya mereka menemukan 4 toko penyedia
lowongan pekerjaan , sehingga pada keesokan harinya mereka kembali lagi
ketempat tersebut , sesampai ditempat tersebut dengan sabar mulai duduk untuk menyiapkan
diri, dengan melengkapi berkas teta dan angga duduk disebuah kaki lima, dan
menyiapkan segala sesuatu , setelah semua proses berkas telah lengkap ,
perlahan teta dan angga masuk , kedalam mall tersebut , dan mulai mencari
toko-toko kemaren, dan mereka menjatuhkan lamarannya, setelah semua proses
telah dilalui akhirnya merekapun pulang dengan damai, tetapi pada suatu waktu
teta dan angga pergi untuk menjumpai sebuah tempat yang menyediakan layanan
kerja, yaitu sebuah tempat pendaftaran
pramugari di penerbangan, teta menemukan alamat tersebut karna menyediakan
lowongan untuk ditempatkan sebagai guru di taman-kanak-kanak, tetapi kantor
penyedia layanan pekerjaan tersebut hanyalah sebuah distributor mahasiswa untuk
disekolahkan kepernerbangan, saat itu menjelang siang, teta meminta angga untuk
menghantarnya kealamat tersebut, dengan tenang mereka mulai menyelusuri kota,
tetapi alamat tersebut tidak ditemukan, tetapi dengan sabar angga mencari
jalan, dan akhirnya sampai ditempat tersebut, teta yang dengan berani mulai
masuk , dan mulai mengalami proses wawancara Pada
suatu ketika tepatnya pada hari sabtu
siang , teta mengadakan pertemuan dengan temannya hari itu adalah hari dimana teta kecewa
akibat sebuah pekerjaan yang begitu rumit , dengan santai dan membaca Koran
teta yang sudah pasrah dengan keadaan mulai mengambil sebuah keputusan untuk
menjumpai temannya, dengan tenang angga pun menghantarkannya, setelah angga
menghantarkannya angga langsung
pulang kerumah, untuk mengerjakan skripsinya, kemudian pada saat malam
menjelang teta meminta angga untuk menjemputnya, dan angga kemudian hadir dan menjemput teta, tetapi angga harus
menunggunya , dengan rewel teta meminta
angga untuk menunggunya, dan angga kemudian menunggunya dengan sabar, setelah
teta selesai, mereka pun langsung pulang, tetapi karna pada saat itu ketepatan
malam minggu angga kemudian mengajak
teta untuk makan bakso, dengan mengitari kota dan melewati jalan sunyi , sebuah
warung bakso ditemukan, dan mereka singgah untuk makan, dengan bercerita dan
malam yang mulai larut mereka memutuskan untuk bergegas pulang, sesampai
dirumah mereka pun langsung tidur. , diantara
mereka, untuk mengisi kegalauan teta dan angga pun mengambil inisiatif untuk
mencuci fikiran, dengan berwisata ke kota brastagi,
pada siang hari mereka bergegas berangkat dari kota medan menuju kota brastagi , sepanjang perjalanan mereka menikmati hari , seharian mereka bermain dikota brastagi mulai dari penatapan, kota , dan gundaling yang tak kunjung ditemukan alamatnya, saat menjelang sore mereka pun memutuskan untuk segera pulang karna takut kondisi gelap, mereka singgah disebuah penatapan dikota sibolangit dan sampai jam 11 malam di rumah,tetapi sampai dikota medan angga lupa jalan , sehngga butuh waktu 1 jam untuk mencari jalan terang menuju rumah, setelah letih berputar-putar dan kemudian jalan pintas pun ditemukan,dan mereka langsung menuju rumah, untuk makan dan istirahat. hari selanjutnya mereka pun berencana lagi untuk menuju sebuah tempat permandian di sibolangit , dengan penuh persiapan angga membelikan bekal makanan yaitu seikat rambutan, sepanjang perjalanan mereka menikmati pemandangan dan teta merasa bahagia,
risha yang bernama lengkap crishan novelia pakpahan tumbuh ditengah-tengah mereka sebagai anak khayalan perempuan yang memperkokoh hungungan cinta pada jarak yang begitu jauh, mulai dari risha berumur 1 hari mereka mulai berperan menjadi kedua orangtua yang baik untuk mengurus risha, setiap hari ayah dan ibu risha mulai belajar dan melakukan tugas dan tanggungjawab mereka ,wlaupun hanya sebatas anak khayalan pada jarak yang jauh, mereka bercerita muai dari makanan, tanggungjawab masing masing sampai liburan ketaman kota , memont yang paling indah ketika teta dan angga sibuk ingin berpergian kegereja dan mengurus bayi mereka untuk menghadiri sebuah acara paskah yang mengharuskan mereka bermalam digereja, dengan penuh rasa tanggungjawab mereka melakukan peran dan tugasnya sebagai orang tua yang baik, angga yang menemani teta sambil menatap layar mendampingi tetanya untu begadang digereja, karna eta tidak bisa tidur akibat banyak nyamuk digereja, sampai waktu menunjukkan pukul 5 pagi dan teta pun tertidur , tetapi angga masih tetap menatap layar untuk mengerjakan tugas perkuliahannya, setelah setalh pukul 6 teta kembali terbangun untuk melaksanakan acara didalam gereja, hari berikutnya teta dan sekumpulan anak2 sekolah minggu mengadakan perjalanan perlombaan ke sebuah desa, tetapi teta lupa membawa ponselnya, sehingga angga merasa curiga , dan terjadi sebuah kecemburuan, tetapi teta meyakinkan angga bahwa semua baik-baik saja, karna jaringan selular yang tidak terjangkau ditempat tersebut, sekitar bulan april 2015 angga kembali pulang kekampung halaman mereka mulai menjalani hubungan yang resmi didepan orangtua dengan status pacaran,, mereka bermain dan nongkrong di gereja,kedai dan menghabiskan waktu untuk berdua ,pada suatu sore angga mengajak teta untuk pergi berjalan-jalan menuju sebuah tempat di desa sipan sihaporas, mereka berjalan melalui persawahan dengan speda motor, dan akhirnya sampai disebuah tempat di ujung tebing ,yang dibawahnya mengalir sebuah sungai pembangkit listrik, mereka mulai bercerita bahwa aka nada sebuah perpisahan diaman teta akan pergi kesebuah kota di Bengkulu, kemudian angga termenung dan sejenak melamun menatap tetanya, saat sore tiba teta mulai mengajak angga untuk pulang , tetapi angga masih menolaknya, karna angga masih ingin berlama-lama merenung dan menatap indah pemandangan, , tetapi waktu semakin larut, teta kembali menyuruh angga pulang, karna angga tau ibu kekasihnya adalah seorang pemarah, dan tiba-tiba teta mengatakan , “perempuan nya abg’ dan angga menjawab, “tidak” teta kembali mengajukan pertanyaan itu, dengan berfikir panjang, tetapi tau bahwa sebenarnya kekasihnya tidak polos lagi, dan mulai merenungkan perkataan itu, angga mulai memberikan kekasihnya kecupan pada bibirnya, , dengan rasa gembira mereka kemudian pulang, menjelang malam tiba teta menanti angga untuk menjemputnya disebuah gereja dan angga tiba dan masuk kedalam gereja tersebut, untuk menemani tetanya melaksanakan tugasnya, ketika acara telah selesai mereka pun tinggal berdua dalam gereja , teta mulai memebereskan semua pkerjaannya untuk menyusun dan merapikan segala perlengkapan dan peralatan dalam gereja, setelah semua selesai merekapun memutuskan untuk pulang kerumah, tetapi angga membawa teta untuk berhenti tepat didepan rumah angga,dan kemudian teta memberatkan langkahnya untuk pulang terlebih dahulu kerumah, sehingga memberanikan diri untuk singgah sebentar di depan rumah angga. Mereka bercerita, teta yang terbaring disebuah ayunan dengan menikmati indahnya pacaran, ketika angga mulai mendekati tetanya , tiba-tiba ibu teta mulai keluar, dan mulai marah-marah, mencari kemana putrinya, walaupun ibunya melihat mereka didepan rumah tetapi ibunya berpura-pura tak melihat, karna takut rebut karna ulah mereka, setelah terlihat jauh , teta mulai beranjak dari ayunan dan kabur menuju rumahnya, dan angga masuk kedalam rumahnya, tak lama terdengar suara rebut pada rumah teta yang menandakan ibunya telah pulang dan mulai memarahinya, dengan merasa bersalah lagi, angga pun keluar menuju sebuah kedai, sesampai dikedai angga melihat kumpulan anak muda desa melakukan acara kumpul, untuk meminum nira, dan angga pun ditawarkan untuk bergabung, dan dengan senang hati angga menerima tawaran tersebut dan mulai meminumnya dengan cepat, melihat ada sesuatu yang kurang untuk sebagai makanan lalapan , angga berfikir dan mulai mencari ide untuk mengambil 1 ekor ayamnya yang berada di depan rumahnya , dan dengn dibantu seorang temannya angga bergegas pergi dengan mengendarai sebuah sepeda motor, sesampai dirumah, angga langsung sigap memanjat pohon dan mengambil ayam tersebut dengan cepat,dan dengan suara mesin yang di gas kencang teman angga langsung menanti dan angga langsung pergi menaiki speda motor tersebut, tetapi kakak angga langsung berteriak maling, sesampai di tempat perkumpulan angga langsung memberikan ayam trsebut agar di olah menjadi makanan saji, waktu semakin larut 5 gelas pun tak terasa telah habis diminum, setelah semua telah habis , perkumpulan tersebut pun bubar, jam semakin larut, tetapi angga memutuskan untuk tidak pulang kerumahnya, dia dan temannya pergi bermain ke kota sibolga, dan pulang pagi kerumah, hubungan pun semakin renggang antara angga dan teta akibat ulah mereka yang membuat kemarahan terjadi pada ibunya teta. Waktu yang berlalu, dan begitu banyak pengalaman yang tertuang didesa, waktu mengharuskan angga untuk pulang ke kota medan, angga tau ketika dia beranjak dari desa aka nada hati yang kesepian tertinggal didesa,pada hari sabtu angga mengajak teta untuk pergi berjalan-jalan kesebuah tempat yang telah dia kunjungi terlebih dahulu , yaitu sebah tempat yang berada pada atas bukit jalan baru
, tetapi teta yang merencanakan untuk pergi ke kota Bengkulu masih berada di kota sibolga untuk membekali keberangkatannya kerantau tempat dia merantau yaitu kota Bengkulu, angga mengirimkan pesannya untuk berjumpa, dan teta pun membalasnya agar angga menunggunya di seminari yaitu sebuah tempat tembat kakaknya teta bekerja , dengan sabar angga menunggu dan melihat teta menghampirinya dengan sebuah koper . dengan cepat mereka langsung memutuskan untuk bergegas pergi ketempat yang telah mereka rencanakan , sesampai disana mereka mulai merenung sambil menatap diatas ketinggian, hujan gerimis mulai membasahi baju mereka berdua yang bersedih untuk menghadapi masa perpisahan dalam kurun waktu yang lama, dengan saling bertatapan mereka mulai berjanji untuk sama-sama cepat kembali dari perantauan, haripun mulai senja , angga memutuskan untuk segera pulang, karna dia akan segera berangkat lagi kekota medan, dengan rasa sedih tetapun tak ingin melepaskan angganya , karna hari yang tak mendukung , serta hujan yang begitu lebat, angga memutuskan untuk tidak berangkat pada malam itu, dan mulai mengirimkan pesannya bahwa keberangkatannya ditunda, teta yang menerima kabar, merasa gembira , pada keesokan harinya tepatnya mereka tidak pergi , dan seharian hanya dirumah, dan malam pun menjelang dan angga kembali kekota medan,diperjalanan angga mengalami sebuah masalah yaitu kehilangan dompet, tetapi masalah itu bukanlah menjadi suatu hambatan untuk keberangkatannya,karna dia menyisipkan uang sebagian pada kantong bajunya , untuk sebagai pertahanan selama dalam perjalanan,sesampai di terminal makmur medan teta mulai mengirimkan pesan menyatakan bahwa hatinya telah damai angganya sampai dengan selamat kekota medan, walaupun hati menjerit menerima kenyataan akan terjadi perpisahan dalam jarak yang begitu jauh, hari mulai menjelang terang pukul 6 pagi angga mulai sarapan dan langsung pulang menuju kediamannya, saat siang menjelang sekitar pukul 12 teta mulai mengirimkan pesan bahwa dirinya akan seera berangkat menuju kota perantauannya di Bengkulu, dengan merasa bersedih angga pun mulai merasakan sakitnya ditinggalkan dengan jarak yang jauh, tetapi angga meyakinkan teta untuk tidak pergi, dengan perasaan kuat teta tetap melanjutkan perjalanannya, sebelum berangkat ibu angga menunggu teta untuk berpamitan, tetapi teta belum berani untuk mendekati ibunya angga, karena rasa segan mengingat ibu angga adalah mantan gurunya di SMP, setiap waktu angga tetap menemani teta diperjalanan, sampai ketika teta sampai dikota sedempuan pada sore hari, angga yang memiliki firasat langsung member pesan kepada teta , agar dia berhati-hati terhadap tingkah supir yang membawanya ke kota tujuannya, tetapi teta meyakinkan angga untuk tidak cemas, dan mengihklaskan bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi angga terus berjaga, sampai suatu ketika hari menjelang malam tepatnya pukul 12 angga memiliki firasat buruk dan menangis bersedih seiring berdoa kepada kekasihnya . sedih yang ditemani hati yang gelisah, ketika perjalaan teta mendapati kota padang, supir mulai mengulah dengan tingkah nakal dan melakukan pelecehan terhadap teta, tetapi teta masih tertidur, berkali-kali angga menelpon dan memngirimkan pesan tetapi belum ada jawaban, setiba sampai di kota padang, mobil yang dikendarai teta berhenti untuk beristirahat, angga tetap menemani tetanya diperjalanan dengan ditemani kopi dan menatap layar, kemudan teta memberi pesan bahwa dia dilecehkan dalam perjalanan, angga yang merasa penuh amarah ingin marah dan segera mendapati teta, tetapi tidak bisa dia lakukan, karna jarak dan tempat yang begitu tak memungkinkan,angga mulai memberikan nasehat,agar teta bisa bersifat tegas untuk memarahi supir tersebut, dan mengancamnya kepada petugas loket,dan teta menurutinya, ketika hari mulai terang menjelang pukul 6 pagi teta pun melewati kota padang dan sampai di kota Bengkulu, dan angga yang tertidur terbangun dan memberikan pesan bahwa rohnya telah mendahului teta tiba disana dan menitipkan teta kepada abangnya yang berada ditempat kerjanya disana, dan mengatakan abg tidur dulu yah sayang , hari sudah terang, semua pasti akan baik-baik saja, tak lama kemudian angga terbangun dan mobil yang dikendarai teta berhenti untuk beristirahat lagi disebuah pantai , dan pukul 1 siang teta sampai dikota perantauannya yaitu di dusun V kecamatan air dikit muko-muko, dan disambut oleh keluarganya, angga yang berada dikejauhan pun melakukaan aktivitasnya seperti biasa,hari berlalu begitu cepat, mereka saling bercerita satu dengan yang yang lain tentang aktivitas yang mereka lakukan di tempat perantauan mereka, namun mereka memiliki kendala karena kondisi jaringan selular di tempat keberadaan teta yang kurang memungkinkan, sapaan dari social media yang hanya di lemparkan seminggu sekali, ditempat perantauannya teta bekerja sebagai seorang asisten di studio photo, pergi pagi dan pulang malam, kediaman teta berada disebuah dusun terpencil yang jauh dari perkotaan yang memiliki penduduk yang minim dan mayoritas di tempati oleh orang dari suku batak, teta dan angga selalu berkomunikasi walaupun terkadang lama untuk membalasnya akibat gangguan jaringan,hari-hari yang dijalani teta penuh dengan kesendirian..
suatu waktu teta menginginkan pulang dengan alasan kangan terhadap orang tuanya, serta terkena gangguan spiritual ,lalu dia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya yang belum genap 1 bulan, dengan buru buru teta meninggalkan tempat itu untuk segera pulang kekota sibolga, sesampai dikota sibolga dia bertemu dengan orangtua serta sanak saudaranya, dan menghabiskan waktu bersama keluarga disibolga, tak lama dikota sibolga , tepatnya hanya sekitar 4 hari, seorang guru meminta permohonan kepada teta untuk bersedia dipekerjakan si rumah guru tersebut sebagai penjaga bayi (baby sister) dikota medan dengan senang hati teta menuruti permintaan tersebut mengingat karna pacarnya angga berada dikota itu juga, kemudian teta berkemas tampa persiapan apupun untuk pergi kekota tersebut, saat menuju ke kota tersebut kemudian teta mengabarkan kepada angga bahwa dia telah berangkat kekota medan,dengan senang hati, angga menanti tetanya tiba,sesampai dikota medan, teta langsung dipekerjakan dirumah tersebut sebagai penjaga balita, kemudian angga memberikan pesan bahwa dia akan datang untuk melihat teta kesana, tetapi teta menolak karna merasa segan baru sampai masih hari pertama disana, keesokan harinya kemudian angga mulai berkunjung ketempat teta bekerja bersama temannya Wesley simbolon (sesok teman angga yang tertulis pada cerita masalalu mengulah) angga dan temannya berputar berkeliling sepanjang kota medan dan menemukan alamat keberadaan teta yang berada pada jalan bunga sedap malam 10,dengan perlahan mereka mulai mencari alamat nomor rumah itu sampai ketemu, angga mengirim pesan kepada teta agar teta bisa keluar menemui angga, tetapi teta membalasnya agar angga yang datang masuk kedalam, dengan rasa berani angga kemudian masuk dan mengucapkan salam, angga melihat teta dan terkejut melihat kekasihnya yang begitu berubah, dengan rasa kangan mereka kemudian duduk di ruang sambil menonton dan bercerita, waktu yang berlalu membawa malam larut, angga dan temannya wesley memutuskan untuk kembali pulang, beberapa hari kemudian teta mengirim pesan agar angga datang lagi ke tempat tersebut, dan angga pun tiba dengan sendiri dengan membawa makanan cemilan, ternyata pemiik rumah tersebut masih berada diluar untuk urusan kerja, teta dan angga duduk bercerita sambil menonton serta menjaga balita.waktu kemudian beranjak sore dan angga berpamitan untuk pulang, sesampai dirumah teta dan angga berkomunikasi dan teta meminta kepada angga untuk membawanya kain sarung sebagai selimut tidurnya, pada suatu saat teta dan angga berniat untuk melakukan refresing berjalan-jalan disekitar kota medan dan mereka mulai merencanakan siasat untuk pergi bermain keluar rumah tempat teta bekerja , kebetulan seorang teman teta sedang berada dirawat dirumah sakit pringadi medan karna keadaan luka bakar serius , pada hari minggunya tepatnya 08 agustus 2015 teta berkata agar angga menjemputnya ditempat kerjanya, dengan alasan kepada pemilik rumah untuk membesuk teman teta dirumah sakit, dengan rasa senang angga pun tiba menjemput teta, dengan waktu yang begitu lama teta yang berdandan dan angga yang tiba dengan membawakannya kain sarung, dengan mengucap pamit mereka pun pergi dari rumah , sesampai pada tujuan teta dan angga memutuskan untuk tidak pergi kerumah sakit, akibat belum memiliki apa-apa untuk buah tangan membesuk temannya teta, dan angga pun mengajak teta menuju kediamannya yang berada di pelita 4 mereka mulai, pada sekitar tanggal 18 agustus 2015 , teta dan angga mulai hidup bersama tapi masih tampa ikatan,
pada siang hari mereka bergegas berangkat dari kota medan menuju kota brastagi , sepanjang perjalanan mereka menikmati hari , seharian mereka bermain dikota brastagi mulai dari penatapan, kota , dan gundaling yang tak kunjung ditemukan alamatnya, saat menjelang sore mereka pun memutuskan untuk segera pulang karna takut kondisi gelap, mereka singgah disebuah penatapan dikota sibolangit dan sampai jam 11 malam di rumah,tetapi sampai dikota medan angga lupa jalan , sehngga butuh waktu 1 jam untuk mencari jalan terang menuju rumah, setelah letih berputar-putar dan kemudian jalan pintas pun ditemukan,dan mereka langsung menuju rumah, untuk makan dan istirahat. hari selanjutnya mereka pun berencana lagi untuk menuju sebuah tempat permandian di sibolangit , dengan penuh persiapan angga membelikan bekal makanan yaitu seikat rambutan, sepanjang perjalanan mereka menikmati pemandangan dan teta merasa bahagia,
sampai dipermandian speda motor angga langsung diparkir dan mereka
menuju kedai untuk membeli makanan kesukaan teta yaitu popmie dan untuk angga
yatu rokok , setelah bosan mandi teta kembali rewel dan menyuruh angga untuk
pulang, dalam perjalanan mereka mulai menikmati lagi , sampai di kota medan
mereka berhenti sejenak untuk melihat sebuah kecelakaan , dan singgah dirumah
makan untuk mengisi tenaga, sampai akhirnya tiba kembali dirumah. akhirnya
orangtua teta dari desa mulai kewalahan dan terus memaksa angga agar teta dikembalikan kerumah dikampung tetapi saat itu angga masih dalam proses
penyusunan skripsi dan tidak bisa memenuhi keinginan orang tua teta untuk
pulang, , angga tetap meyakinkan orang tua teta agar percaya , pada suatu saat teta dan angga pergi lagi untuk
liburan dan menghabiskan waktu , teta
dan angga pergi kesebuah tempat di tanjung morawa menuju pantai cermin, pernah sekali angga ingin menjtuhkan lamarnan,
dan lamaran itu dikirim melalui email, dan prosesnya akhirnya mendapat
panggilan tetapi angga belum memiliki niat sama sekali untuk bekerja, sehingga
pada kesempatan itu teta dan angga hanya memenuhi panggilan saja, walaupun
harus kesasar enuju tempat lokasi tersebut, tetapi tempatnya tetap juga
akhirnya ditemukan, ,pada menjelang siang angga yang mengalami depresi tak tau
harus berbuat apa lagi, sepulang dari tempat dosen pembimbing keduanya , disana , pada saat mejelang siang angga mengajak
teta untuk jalan-jalan, dengan semangat teta langsung menurutinya, dengan
menyelusuri jalan dengan sabar dan dengan dilanda matahari yang begitu panas ,
jalan untuk menuju tempat tersebut tak kunjung ditemukan, sehingga mereka pun
harus membuka gps di ponselnya, tetapi dengan perlahan menyelusuri kota,
akhirnya angga memilih jalan alternativ pada sebuah jalan lintas , dengan
perlahan mereka melintasi jalanan, tetapi didalam perjalanan berkali-kali
polisi menilang mereka , teta yang kewalahan merasa ketakutan tetapi dengan
tenang angga menghadapinya dengan menikmati suasana akhirnya mereka sampai disana ,mereka masuk
menyelusuri pantai dengan speda motor yang terperosok kedalam pasir sehingga
membuat teta berjalan kaki dan sekilas berhenti menatap pantai yang indah
seperti capucino mocca , tetapi setelah
itu mereka langsung pulang akibat suasana pantai yang tak begitu indah serta
sambutan yang kurang nyaman dari penyedia tempat wisata , tetapi dalam
perjalanan teta berkali-kali ditilang polisi, tetapi karna perlengkapannya bisa
ditunjukkan mereka selalu bisa lolos ,dalam setengah perjalanan karna letih
angga menghentikan speda motornya disebuah SPBU untuk minum kopi dan makan tahu
goreng kemudian teta
dan angga melanjutkan perjalanan untuk pulang, pada hari berikutnya teta dan angga mengelilingi kota medan ,dan
kesasar , tetapi dengan tenang angga mengajak teta untuk nongkrong disebuah
warung untuk makan goreng dan minum kopi, setelah fikiran mereka sudah tenang
angga bertanya kepada pemilik warung dan mereka akhirnya bisa pulang juga
kerumah, dengan mengitari jalan kota,, tetapi dalam perjalanan teta dan angga
mengalami kehujanan, hingga mereka harus kembali lagi untuk bermandikan hujan
sampai kerumah, tibalah dimana saat puncak angga mengalami masalah yaitu tentang
tugas akhir sekolah, dosen 2 nya tak kunjung menandatangani skripsinya , dalam posisi terjebak angga diancam untuk
dipenjarakan, pada kejadian itu terjadi konflik, dosen tersebut mengatakan
bahwa itu bukan hasil karya angga, dan dosen tersebut mengintrogasinya dan
membuat sidang pribadi, padahal dari dosen pertama angga sudah di ACC-kan untuk
mengikuti seminar di sidang resmi, semua hanya akibat sebuah kesalahan ketikan
yang terjadi pada latar belakang ,tetapi dengan sabar angga tetatap meyakinkan
dosen, tetapi tanda tangan itu tak kunjung diberikan, dengan menjalani waktu
,angga tetap fokus pada pendirian , bahwa hari itu bukan rezekinya, , semua keluarga angga kewalahan karna mereka
takut proses wisuda akan tertunda karna pembatalan tugas akhir, angga pun
menangis, walaupun keluarganya berjuang untuk membantunya , angga tetap pada prinsipnya
untuk menyelesaikan sendiri masalahnya, dengan penuh rasa sedih angga pun
mengajak teta untuk segera pulang kesibolga dengan mengendarai sepeda motor,
tetapi adik angga yang bernama kim datang bersama kawannya untuk memastikan keadaan angga karna stuasi
angga yang mematikan ponselnya, tetapi angga menjawab semua baik-baik saja,
kemudian adik angga teresia pun pergi teta dan angga pun pergi, dengan
mengendarai speda motor mereka mengitari kota medan dan menuju jalan lintas
untuk menuju kota tarutung terlebih dahulu, diperjalanan teta dengan bahagia
pun mulai mengajak angga untuk berfoto-foto tetapi angga tau bahwa itu akan
menjadi kenangan buruk, angga tetap melanjutkan perjalanan, sampai di kota deli
serdang mereka singgah untuk makan siang kemudian bergegas kembali berangkat
dan dikota tebing arah perjaanan mereka salah, dan angga memiliki firasat harus
berputar kebelakang dan ternyata benar bahwa jalan yang salah tersebut menuju
kota tanjungbalai , dan mereka langsung
berputar menuju siantar karna situasi
huja teta dan angga pun singgah di pedalaman perkebunan sawit antara tebing dan
siantar sampai ketika suatu saat harus
kembali lagi mengisi bahan bakar dikota siantar , jam sepuluh malam tepatnya dalam kondisi hujan yang selalu
lebat diperjalanan , angga memutuskan untuk singgah disebuah warung di lints
kota menuju parapat untuk makan dan minum, dengan kondisi yang kedinginan
mereka menahankan semuanya dan setelah selesai makan angga menyampaikan
perkataan kepada pemilik warung untuk mengizinkan singgah bermalam walaupun
hanya duduk di kursi , tetapi pemilik warung tidk memberikan izin sehingga
mereka memutuskan untuk segera pergi walaupun kondisi masih hujan deras, dengan kondisi
kedinginan angga tetap focus melaju bersama teta, karna angga ta jalan yang
dilewatinya adalah lintas rawan, tak lama kemudian mereka sampai di kota parapat
dan berhenti disebuah SPBU, meihat kondisi SPBU yang tak memungkinkan untuk
beristirahat, angga kemudian keluar dan mencari SPBU lainnya
dengan berjalan kaki, dan akhirnya angga menemukan sebuah SPBU besar dan
mengajak teta untuk singgah disana, dengan kondisi basah, mereka langsung
menuju kamar mandi untuk menukarkan pakaian, dan meminta izin pada pengurus
SPBU agar diberi izin untuk istirahat walaupun di bangku2 yang terdapat diluar,
pemilik, dengan suasana letih anggapun menyuruh teta agar beristirahat dengan
kondisi yang dingin dan sunyi anggapun menjaga tetanya, yang tertidur, tetapi
teta tak tega dan menyuruh angga juga tertidur dengan cara mereka bergantian,tepatnya
pukul 5 pagi dalam suasana yang dingin angin berhembus, teta mengajak angga
untuk segera berangkat lagi, dengan penuh pertimbangan angga kemudian menurutinya, padahal angga berencana untuk
mengajak teta pagi hari menatap danau toba, tetapi teta bersi keras dan
merekapun berangkat, dalam perjalanan angga selalu berada dibelakang truk yang
lewat untuk menghangatkan badan, tetapi berulangkali pengemudi truk berhenti
menyangkah mereka adalah begal, sesampai
dikota balige mereka pun memutuskan untuk sarapan tetapi mengingat kondisi
keuangan yang menipis dan juga kondisi bahan bakar yang habis teta pun menyuruh
angga untuk menjual ponselnya, dan laku sekitar RP.300.000, dan merekapun
singgah disebuah kedai sarapan di kota balige, dengan meminum tehmanis panas
dan makan mie, setelah selesai sarapan dan berbincang-bincang dengn pemilik
warung teta mengajak angga kesebuah tempat yang terlintas disana, yaitu danau
toba yang terlihat dari kejauhan, anggapun bergegegas menuruti tetapi danaunya
tak kunjung ditemukan, arna kondisi medan jalan yang sulit untuk menuju tempat
tersebut, setelah sampai kota siborong-borong teta dan angga memutuskan untuk
berhenti untuk makan dan membeli sebungkus kacang sebagai cemilan dijalan,
setelah selesai makan tetapun meninggalkan tempat tersebut dengan rasa kecewa
akibat harga yang terlalu tinggi, seharian menyelusuri kota, teta dan angga
akhirnya sampai dikota tarutung, teta mengajak angga untuk singgah disebuah
tempat wisata yaitu salib kasih tepatnya pukul 3 sore . Tetapi dengan rasa tak
nyaman tetapun tak berniat lagi akibat suasana jalan yang begitu sepi, dan mereka
memutuskan untuk singgah disebuah tempat pemandangan untuk menjemur kain ,istirahat denganserta menatap kota
angga berfikir jika merea pulang akan terlalu cepat, dan angga kembali berfikir
untuk singgah dikota tarutung tepatnya di sibikke kec pangaribuan tempat dimana
asal mula marganya, dan kampung halaman nenek moyangnya, setelah pakaian mereka kering mereka
memutuskan untuk segera berangkat, setelah pertengahan jalan hujan selalu
mengguyur mereka, sesampai disana mereka langsung disambut keluarganya dan
bergegas mengganti pakaian,makan lalu tidur, dengan kondisi yang sangat dingin
mereka tak berani untuk jalan-jalan dan memutuskan untuk tetap tidur, disana
mereka meluangkan waktu untuk bermain dan mengitari kota tersebut , dengan
berjalan kaki dan berkendara mulai dari kesungai, kekota, kerumah kakeknya
angga dan ziarah kemakan leluhur angga,memetik bunga mengukir dinding dengan tulisan “teta dan
angga” hari-hari yang dilalui begitu sangat menyenangkan, walaupun begit mereka
sadar menumpang dirumah orang walaupun keluarga tetapi tanggungjawab mereka
tetap mereka kerjakan, keesokan harinya, saat pagi menjelang teta dan angga
memutuskan untuk segera pulang kesibolga, mereka pamit dan bergegas berangkat,
tetapi angga ingin mencoba petualangan baru lagi yaitu dengan melintasi jalan
lintas dari timur untuk menuju kota sibolga, mereka singgah disebuah tempat di
desa ditarutung untuk makan siang, dan disebuah sungai untuk menatap, tetapi
perjalanan masih panjang dan mereka melanjutkan perjalanan menuju kota spirok,
dan singgah sebentar mengisi bahan bakar dan singgah berdiam akibat diguyur
hujan, dengan kondisi kedinginan angga tetap melanjutkan perjalanan, sampai
kekota sedempuan, dan singgah disana untuk makan dan minum serta membeli
cemilan , dengan kondisi yang kebingungan angga pun pasrah mengikuti jalan yang membuatnya bingung dikota sidempuan,
tetapi teta dan angga tetap berusaha mencari jalan hingga akhirnya sampai
kejalan lintas sibolga, dengan kondisi yang dingin serta hujan mereka tetap
melaju sampai akhirnya kota tapanuli tengah terlihat dan teta merasa bahagia
diblakang dudukan angga, setelah sampai dikota pandan , angga mengajak teta
untuk istirahat minum kopi dan makan mie tek-tek, setelah makan mereka bingung
mw kemana lagi , sehingga mereka memutuskan untuk singga dsebuah pantai di
samping pia hotel, jalan padang sidempuan , dengan berfikir dan merenung sambil
menatap pantai, angga menghubungi ibunya bahwa mereka telah sampai dikota sibolga,
dengan diam-diam ibunya angga menjumpainya, dan mulai mendiskusikan, bahwa teta
tidak ingin pulang ke rumahnya, dengan bicara 4 mata teta yang terdiam dalam
kejauhan duduk menatap pantai, lalu ibu
angga mengajak mereka makan malam disebuah kafe, tetapi saat selesai makan
mereka bingung untuk membuat teta kemana, dengan inisiatif ibu angga membawa teta kesebuah tempat yaitu
rumah sahabat ibunya angga , tetapi angga pun melarikan diri dari jalur
sehingga teta dan angga kembali kerumah angga tepatnya pukul 12 malam dalam
stuasi hening, setelah berdiskusi ibunya angga langsung menghatarkan teta
ketempat temannya , dan angga langsung pergi kekedai, dengan selisih setengah
jam ibunya teta langsung kewalahan setelah teta dihantarkan ,ibunya teta
melihat angga keluar diam-diam dari rumahnya dan langsung menemuinya di kedai,
setelah itu ibunya teta memninta untuk menanyakan dimana keberadaan putrinya,
dengan tenang angga langsung menghantarkannya untuk menjemput putrinya, saat
angga di kedai terjadi pertengkaran di rumah angga, yaitu ibu angga vs ibunya
teta, setelah teta ditemukan, ibu angga
langsung pulang kerumah , tetapi ibunya teta meminta pertanggungjawaban atas
kejadiaan ini, tetapi keluarga angga tetap bersikeras berdiam diri, sehingga
terjadi keributan antara teta dan keluarganya, dengan tidak tahan anggapun
langsung mendatangi dan menjawab semua pertanyaan yang di ajukan ibu teta, setelah itu anggapun pulang, tetapi teta tak
ingin tnggal dirumahnya , sehingga terjadi keributan didesa, melihat kondisi
itu angga langsung menghampiri lagi dan membujuk teta, serta melerai kejadian
tersebut, sehingga terjadilah rapat keluarganya untuk membuat keputusan agar
angga membawa teta dari rumah itu, kemudian setelah dskusi tersebut tetangga
sebelah yang ketepatan satu marga dengan angga langsung menjamini perkara tersebut
untuk diperanggungjawabkan,. Teta dan angga tetap tersenyum dan bercanda disana
, sehingga menjelang paginya angga meminta ibunya untuk berdiskusi ditempat
tersebut, ternyata ditarik kesimpulan, bahwa kondisi teta tak ada apa-apa dan
tak berisi, tetapi ibu teta tetap bersikeras agar teta dan angga
dinikahkan, sehingga pada malam
berikutnya terjadi rapat keluarga dan membalas permintaan dari ibunya teta,
tetapi harus training 6 bulan dalam rumah ibadah sebelum nikah, dan angga tetap
melanjutkan sekolahnya ke kota medan, tapi pisah ranjang , satu minggu lebih
teta dan angga di izinkan untuk tinggal serumah dalam kondisi ini orangtua
angga hanya pasrah walaupun batinnya menolak, begitu juga dengan kondisi
keluarga teta yang harus menangisi jalan yang dipilih putrinya tangis yang
keluar dari kedua orang tua mereka membuat kesadaran bahwa mereka pasrah
menerima karma yang berbuah dari perjalanan masa dulu mereka , tetapi dengan
keadaan dan desakan yang tidak sependapat angga memutuskan untuk diberangkattkan bundanya kebangka Belitung
dengan tujuan pelarian , tetapi angga berfikir bahwa cerita itu belum bisa di
tuliskan sehingga beribu alasan, dan membuat mereka tetap tinggal didesa , hari
yang dijalani seperti layaknya keluarga
baru, setiap hari mereka hanya pergi bermain dan jalan-jalan, tetapi hujan
selalu menemani, sampai suatu ketika pada saat hari minggu ibunya angga
mengajak mereka bergereja , dan untuk menjalankan masa training 6 bulan, tetapi
teta dan angga belum berniat menikah , sehingga pada suatu saat pada saat
setelah selesai makan siang ketika puang gereja teta dan angga menyimpang dari
permintaan ibunya angga dan mereka memutuskan untuk pergi kesorkam, dengan uang
seadanya mereka berpetualang kesebuah tempat yang pernah angga janjikan kepada
teta mengingat pemandangan matahari terbenam disana terlihat begitu indah,
dengan senang mereka melalui kota sibolga dan singgah sebentar disebuah kedai
tempat saudaranya teta mengingat hujan yang baru turun untuk berteduh , disana
mereka bercerita sejenak untuk memperkenalkan diri , angga yang terdiam kembali
merenung sambil menatap sebuah parit yang dipenuhi ikan tawar, lalu kemudian mereka
berangkat lagi menuju sorkam dan
sampailah sampai ke sebuah pantai yang disebut pantai binasi, ditepian pantai
teta menyamar sebagai ibu-ibu hamil dan angga pun menyamar sebagai seorang
ayah, dengan menyelusuri pantai dan dengan mencari gerimis ditepian pantai
sampai puas, setelah itu badai dan mendung kembali menyinsing dan mereka
memutuskan untuk pulang ke desa , namun di jalan mereka mengalami kondisi yang
sangat tragis yaitu hujan yang datang mengyur kota sorkam dan bahan bakar speda motor yang habis, teta dan angga tetap
berjalan mendorong speda motor sejauh setengah kilometer, dan akhirnya
menemukan penjual bensin eceran, setelah mengisi bensin teta dan angga singgah
sebentar untuk berteduh dan kemudian pulang kerumah dengan kondisi hujan yang
lebat, sampai di simpang , yang disebut simpang tukka mereka berteduh karna
hujan masih terus menguyur mereka, setelah hujan berhenti mereka pun bergegas
lagi untuk melanjutkan perjalanan, tetapi apa daya bahan bakar sepeda motor
angga habis, dan angga memutuskan untuk mendorongnya dan teta duduk diatasnya,
mengingat teta dalam kondisi kepura-puraan sebagai ibu hamil, dalam perjalanan
teta dan angga tetap tersenyum walaupun angga sudah kecapean, tapi semangatnya untuk mendorong masih tetap
berkobar, dengan dorongan terakhir angga memutuskan untuk berhenti di sebuah
tempat yang disebut seminari, agar speda motor itu bisa dititipkan dulu karna
kondisi teta yang kebelet dan ingin mencari kamar mandi, , setelah itu angga
memutuskan untuk kembali kebelakang dan mengambil sepeda motor tersebut, agar
disimpan disebuah warnet , yaitu sebuah warnet sahabat angga, dengan rasa
gembira teta dan angga pun pulang berjalan kaki kedesa, setelah sampai didesa
mereka langsung mengganti pakaian dan makan malam, dan angga menyuruh adiknya
untuk menjemput sepeda motor tersebut, tetapi teta dan angga tetap bersikeras ingin
melarikan diri lagi dari desa, tetapi takdir menjalankan suratannya sehingga
teta kembali dipulangkan kerumahnya, teta memilih jalannya sebelum rapat desa
dimulai mengingat keluarganya mulai meminta pertanggungjawaban dari keluarga
angga, walaupun demikian teta dan angga
masih menyusun rencana untuk mereka agar bisa pergi dari desa, dengan suasana
yang terpisahkan mereka hanya bisa bersabar dan menjalani hari seperti biasanya
, hanya lewat jendela dan saling bertatapan, keesokan harinya teta memutuskan
untuk mencari kerja , dan pekerjaan itu dia dapat, yaitu disebuah rumah makan
terbesar dikota sibolga, pagi-pagi tepatnya pukul 7 teta memberi pesan kepada
angga bahwa dia akan pergi kekota sibolga untuk menunaikan pekerjaan barunya
,sebelum kerja teta menyuruh angga untuk menemuinya tetapi angga masih sibuk
membeli sarapan , tetapi teta bersikeras sehingga angga pun beranjak pergi
menemuinya disebuah simpang bersama temannya dengan sepeda motor , sesampai
disana angga menatap pujaan hatinya dan merasa senang, karena sudah mereka tak berdekatan angga menyuruh temannya untuk
membawa sepeda motornya, agar teta dan angga bisa pergi berdua , , dengan diskusi angga pun mengajak teta
untuk pergi kesebuah pantai, yang disebut pantai holywood pantai yang berada
didaerah pandan, disana mereka merenungi nasib, pada skeesokan harinya tetapun
pulang kedesa untuk mengambil perlengkapannya, dalam kondisi hujan angga yang
duduk di sebuah kedai mulai merenung, tiba-tiba teta meminta kepada angga agar
teta diantar ketempat kerjanya, dengan penuh halangan anggapun berniat, tetapi
ada-ada saja halangan yang angga dapat, teta dengan sabar menunggu kehadiran
angga disebuah simpang , dengan merasa cemas dan takut teta kecewa , angga
mulai mencari alasan untuk mengulur waktu, sehingga anggapun mendapat
kesempatan untuk menghantar teta, dengan cepat angga menerobos hujan, dan
akhirnya sampai ketempat teta berada, teta dan anggapun bergegas pergi
keketempat pekerjaan itu, tetapi hujan deras terus mengguyur sampai akhirnya
mereka singgah dan berteduh, tak lama kemudian hujan reda, teta dan angga pun
pergi.sesampai disana ternyata teta lebih memilih untuk tinggal terlebih dahulu
, ditempat keluarga, dengan berat hati
angga memutarkan kendaraannya, dan tak sanggup pulang, dan teta juga tak
sanggup berpisah, dengan sedikit pembicraan teta memutuskan untuk membatalkan
pekerjaannya, tetapi angga terus menyemangatinya, lama mereka berdiskusi, rasa
sedih dan haru menyelimuti keadaan, sampai akhirnya angga menyalakan
spedamotornya dan bergegas pulang, dengan diguyur hujan lebat, angga akhirnya
sampai dirumahnya, dan mulai menghubungi teta, tetapi sinyal ponsel teta berada
diluar jangkauan akibat ponselnya dimatikan untuk pengisian baterai, , dengan
rasa camas anggapun bersabar, seingga pada waktu sekitar jam 10 kemudian teta
membalas pesannya, dan angga merasa tenang,
setiap hari angga mendatangi teta, dan memberikan perlengkapannya,
hari-hari yang dijalani begitu sulit, angga selalu memanamkan niat dalam
hatinya untuk meminta pertanda tentang kesucian teta , sampai suatu ketika
sebuah pertanda datang, speda motor yang dia tumpangi kotor akibat hempasan
kotoran jalanan yang digilas truk yang mengenainya ,hari pertama teta kerja,
teta menyuruh angga menemuinya untuk membeli parfum dikota sibolga, dengan
menunggu sebentar anggapun tiba dan mengajak teta mencari keperluaannya
keterminal kota sibolga, hari berikutnya angga datang dimalam hari untuk
mengirimkan bantal dan selimut teta serta payungnya, hari berikutnya angga
datang disiang hari, begitulah hari-hari yang dijalani, sampai suatu ketika ,
angga tertidur dirumahnya dan teta mulai cemas, teta memutuskan untuk pulang
mencarinya didesa, tetapi teta tidak menemukannya, teta beranggapan bahwa angga
telah pergi diam-diam kekota medan, setelah terbangun angga melihat ponselnya
,4 panggilan tak terjawab serta pesan singkat yang teta kirimkan, anggapun
mulai mendamaikan teta, tetapi teta masih tetap curiga, karna speda motor yang
angga biasa pakai tidak ada dirumah. Dengan tenang angga meyakinkan teta bahwa
semua baik-baik saja, ketika malam minggu tiba angga berniat menjumpai teta ,
karna situasi jaringan yang padam, angga khawatir teta cemas, sesampai disana
anggapun dengan tenang menanti kekasihnya pulang, sekitar pukul 11 malam angga
mengajak teta untuk pergi berbelanja kebutuhannya, tetapi kondisi hujan yang
deras mengakibatkan mereka tak bisa jalan jauh, dan mereka memutuskan untuk makan
di sebuah tempat , yang disebut sibolga square, setelah selesai makan teta dan
angga segera bergegas untuk pulang ketempat teta bekerja yaitu di tempat
peristirahatan , yang terdapat pada sebuah mezz,, karena peraturan yang
mengharuskan para pekerja harus pulang tepat waktu tampa terlambat mezz tempat teta beristirahat
tertutup dan teta mulai kewalahan, tetapi angga tetap tenang, dan menunggu
peluang agar tempat itu bisa terbuka, tiba-tiba teman satu kerjaan teta datang
dan tempat itu pun bisa dibuka, dan anggapun pulang dengan menerobo hujan
deras, dan singgah sebentar di SPBU, tetapi karna jam sudah larut, angga
beriniisiatif untuk tetap melanjutkan perjalanan, dikampung angga hidup seperti
biasa, yaitu merenung, kekedai dan melaksanakan pekerjan rumahnya,.pada siang
hari teta menyuruh angga untuk datang menjumpainya, tetapi angga enggan, dan
teta mengajaknya untuk berjalan-jalan , setelah selesai angga mulai berfikir
dan meminta pertanda apakah teta suci datang kepadanya, dengan perlahan angga
menyelusuri kota sibolga dan sampai kesebuah bukit, tiba-tiba perlengkapan teta
rusak, dan teta mengatakan untuk berhenti bekerja, tetapi angga masih
memberikannya semangat , sampai keesokan harinya , ada siang hari teta menyuruh
angga lagi untuk datang, tetapi angga merasa enggan , takut pekerjaan teta jadi
berantakan ,tetapi teta terus memaksanya dengan alasan untuk membelikan
perlengakapannya yang rusak., sesampai disana teta mengajak angga untuk jalan2,
dan mereka pergi kesebuah tempat di tepian pantai sepanjang perjalanan teta dan
angga merasa bahagia ,dan sampailah mereka ketempat tersebut disana mereka mulai merenung, teta yang
merasa cemas, bahwa dia merasa angganya akan pergi meninggalkannya, tetapi
angga tetap meyakinkan bahwa dia takkan kemana-mana, sepulang dari sana mereka
singgah untuk memakan mie tek-tek, kemudian bergegas pulang ketempat
peristirahatan teta, tetapi waktu masih tersisa banyak, teta kemudian mengajak
angga untuk duduk ketepian pantai dibelakang kota sibolga, mereka kembali
bercerita, dan bercanda tawa, waktu yang menipis kembali memaksa mereka harus
pulang, dengan memanfaatkan waktu teta menminta agar angga membawanya kesebuah
tempat untuk membelikan keperluannya, setelah itu teta pun kembali untuk
menunaikan tugasnya, pada malam hari angga
meminta petunjuk lagi dan petunjuk itu diberikan dari alam mimpi, gambaran
seorang wanita yang melakukan hubungan intim, pada keesokan malamnya teta meminta angga untuk datang, anggapun
memenuhi permintaan teta, angga yang
menyatakan dirinya tidak bisa hadir, tetapi taku teta kecewa anggapu
menyembunyikan keberadaannya, angga
nongkrong disebuah kedai disampi teta bekerja dan melihat teta , setelah
selesai pulang angga langsung menjemput teta dan mereka duduk di dean tempat
peristirahatan teta, tetapi karna ada selisi paham, tempat peristirahatan teta
dikunci dan teta tidak bisa masuk, dengan kewalahan , etapun terus mengetuk
pintu, tetapi pntunya tetap tidak dibukakan, tampa berfikir panjang, angga
memutuskan untuk member solusi, agar teta bisa di hantarkannya ditempat
saudaranya, tetapi teta menolak dan ingin mengikuti angga kemana pun , untuk
menghabiskan sisa malam, sepanjan jalan mereka bercerita dan berkeliling
berputar-putar dikota sibolga, tiba-tiba terlintas difikiran teta untuk tidak
ingin kerja lagi, tetapi angga terus meyakinkan teta, diperjalanan teta
menghubungi saudaranya, yaitu teman satu kerjaannya tentang masalah yang dia
hadapi,, lalu saudaranya memberikan solusi agar teta kembali kesana, tetapi
teta bersikeras ingin berhenti bekerja, setelah merasa letih berjalan2 eta dan
angga berhenti disebuah SPBU untuk beristirahat, disana mereka bercerita tentang niat dan
ambisi, tetapi angga belum bisa mewujudkan keinginan teta, sampai suatu saat menjelang
larut malam angga memutuskan untuk pulang kerumah dan mendiskusikanya kepada
ibunya, tetapi jalan yang diberikan dipersempit, sehingga teta dan angga
merenung di blakang rumah, saat pagi menjelang angga pun memutuskan untuk
berangkat dari desa karna takut ketahuan oleh orang-orang desa, dan takutnya
ibunya teta marah, teta dan angga kembali merenung di SPBU pandan, sesampai
disana teta dan angga memutuskan untuk pergi, tetapi mereka hanya singgah di
penatapan laut kota hajoran disana
mereka duduk bercerita, dan menunggu
terang, setelah puul 8 pagi angga menyuruh teta untuk kembal ketempat kerjanya,
tetapi teta bersikeras untuk tinggal disitu, dengan berbagai bujuk rayu, angga
menyuruh teta untuk mengikutnya, tetapi angga membawanya disebuah kedai, disana
mereka kembali bercerita, dengan penuh diskusi teta dan angga berniat untuk
pergi kesebuah penatapan dikota sarudik, tetapi angga tidak memiliki cukup
uang, anggapun pulang dan mengembalikan sepeda motornya, dan kembali dengan dihantarkan
adiknya, teta merasa heran melihat
angga, tetapi angga tida dengan
senyuman, di tempat kedai itu teta dan angga memutuskan untuk berjalan kaki
menuju kota sibolga, tetapi angga menurutinya dengan semangat, tetapi teta
berfikir dan enggan kembali ketempat kerjanya karna jalan yang sangat jauh,
akhirnya teta dan angga pergi ke sebuah pantai, disana mereka merenung dan
menahan lapar, setelah lelah berjalan mengitari pantai akhirnya mereka berdua
bersandar pada sebuah pohon dan tertidur pulas, saat teta tertidur angga
membangunkannya agar mereka segera berpindah tempat menuju tepian pantai
lainnya , tetapi dengan rewel teta selalu meminta untuk dibelikan makan ,
maklum saja karena mereka sudah lapar, karna seharian tidak makan ,dengan rasa
lapar dan mata ngantuk, mereka terus berjalan, dan sampai di pantai holiwood,
disana mereka mulai bercerita kembali dan memutuskan bahwa teta berniat tidak
kerja lagi, dan teta langsung menghubungi saudaranya ditempat dia bekerja, tak
lama kemudian pada tengah hari menjelang siang angga membelikan minuman dari
uang yang tersisa, dan tiba-tiba saudaranya datang dan menjamuh mereka denga
air kelapa, dengan penuh diskusi akhirnya teta dipulangkan dan angga pulang
dengan berjalan kaki sejauh 6 Kilometer menuju desa, disana teta disidang, dan
mulai dimarahi, tak, kemudian teta mengadu kepada angga, dengan tenang angga
pun mulai mendamaikan hati tetanya, saat hari minggu teta beribadah seperti
biasanya dan keesokan harinya teta dijemput oleh pengurus gereja untuk dipercayakan kembali dalam pengurusan
kegiatan acara puncak keagamaan, dengan senang dan merasa terhibur teta kembali
keaktivitasnya, tetapi saudaranya terlalu menguncinya sehingga kekecewaan
timbul dan membuat teta harus berhenti dari rumah ibadah tersebut, setiap hari
teta mengeuh tentang keuarganya kepada angga, tetapi angga tetap
mendamaikannya, , sampai suatu ketika angga mulai merasa curiga terhadp hidup
dan mulai mempertanyakan sesuatu kepada teta.. yang akan di kilas melalui pesan
dalam inbox di facebook.
Mendengar cerita tersebut angga langsung tersenyum bahwa teta dapat
mengakui kesalahannya dan berterimakasih telah jujur, dengan semua kenyataan
tersebut angga langsung damai bahwa saja semua tugas dan misinya telah selesai,
serta tuduhan dalam hati dapat diselesaikan, akhirnya angga bisa tertidur
dengan damai, sekarang takdir berkata
lain dan teta harus melanjutkan hidupnya sendiri , dan menjalani hukumannya
karna semua naskah yang mereka jalani tidak sesuai dengan kenyataan, nada dan
liriknya tak bisa harmonis untuk menciptakan alunan lagu pada kisah cinta yang
abadi, dengan terbukanya semua pintu
maka jalan yang mulus dan jawaban atas doanya pasti akan berbuah harapan untuk kebahagiaan
dimasa mendatang, walaupun harus bersakit-sakitan , tetapi ranting itu bisa
terputuskan hingga ke pada keturunan selanjutnya cerita teta dan angga resmi
ditutup pada tanggal 7 desember 2015.
Dan berakhir damai dari kedua pihak.. karna status teta ,, karma yang berjalan dan meyakinkan bahwa akan ada hari pembalasan, ,
saat
wangimu menyentuh harum didesa kau tak pernah bisa mengerti tujuanmu, kau hanya
tau kemewahan dan tak sanggup hidup susah dan menanggung derita, sehingga untuk
mengubah itu kau memaksa dirimu mengikuti zaman dan menggadaikan harga dirimu
kepada seseorang yang menjebakmu dalam hutang jasa walaupun itu atas dasar
suka-sama suka .7 tahun yang lalu aku mengkodemu dengan tatapan ketika kau
pulang angkat air , 2012 aku bertemu dikedai, 2013 kunyatakan cintaku 2014
kutinggalkan jaketku untuk menemani harimu dan kau gantung cintaku , 2015 kita
jadian dan melihat keadaanmu, kau terbawa suasana dan tak sabar menghadapi
kesusahan, saat kau terjebak dengan cinta rumit dan harum mu tercium membusuk
dan bungamu layu kau menjajah dengan cantik parasmu rayuan dan godaan kau
bisikkan kau jadikan aku pelarianmu skarang bukti dan sumber sudah kutemukan
siapa dirimu ,7 desember 2015 kita end 2 judul kutuliskan untukmu 4 lagu dari
perjalanan berbunyi untukmu,, setiap doa yang kau sampaikan dibalas dank au
mengganggap itu masalah padahal itu adalah jalan keindahan , agar kau dapat
menyelesaikan dulu hutang orangtuamu, ari karma yang diwariskan, dan kejadiaan
ini terlihat ketika ibumu ingin membayar adatnya, kutuk keturunan dari boru
hutabarat yang kau jalankan , bahwa wanita itu akan teta di goda sebelum awal
lahir barunya diselesaikan untuk memutuskan sumpah nenek moyang,alam
melambangkan perasaan manusia dan keadaan takkan pernah bisa membohonginya,
alasannya kenapa hujan itu sealu mengikuti kita, karna naskahmu dari awal telah
penuh kebohongan.kenapa rezeki itu tak bisa kau temukan saat bersamaku dan aku
enggan dan malas untuk mencari peluang kerja, saat berman meninggalkanmu, Tuhan
langsung memarahinya dan pekerjaannya berantakan dan dia langsung pulang
kesibolga, begitu juga hidupmu yang penuh dengan kesialan, aku tak bisa
menghadiri natal dan tahun baru bersamamu , karena itu adalah awal dari
pertemuan kalian digereja, ular yang kau kirimkan dipematang sawah itu, tidak
lebih besar dari pada ular yang kukirimkan untuk mengejarnya , perjalanan dunia
roh dan bayangan hanya kusimpan di
bukuku ,sekarang semua kuserahkan dan tergantung padamu misiku selesai walaupun sakit tampa
pengorbanan takkan ada penebusan, manalah mungkin kebenaran menjadi sumber
keadilan bila Tuhan tidak menghukum dosa.
Pengakuan dan kejujuranmu itu yang akan membuka jalanmu menuju
kebahagiaan , dan semua mimpimu sudah kutepati, aku hadir menemani tidurmu dan
bercerita dengan keluargamu, kaulah yang
menyenangkan orangtuamu...
kesan. Dan pesan
1.
Aku bahagia karna
telah mengenal cinta yang seutuhnya hidup berdua dan mengenal artinya bercinta
2.
Aku bisa berguna
menjadi obat untuk menemanimu dari masa kesendirian
3.
Aku bisa
membagikan sedikit dari apa yang kuketahui walaupun hidupku penuh salah dan
dosa
4.
Aku dapat
menyalakan lilinmu agar kau tetap menjadi penerang dalam lingkaranmu,
5.
Aku dapat merasakan
indahnya berumah tangga dan memiliki anak
walaupun hanya sebatas khayalan
6.
Bukuku akan tetap
kusimpan dengan semua kode-kode perjalanan didunia bayangan dan mimpi.
7.
Pertanyaan,
1. Kemana kamu saat tidak pulang dan pembicaraanmu mengalihkan cerita
ketika kau menemani temanmu pacaran
2. Kenapa nasibmu selalu sial saat doamu yang kau sampaikan merasa
dikecewakan dengan masalah
3. Kenapa kejadiaan ini mengulah saat ibumu ingin membayar adat
4. Apa yang kau lakukan dibelakangku saat aku bersekolah dikota medan
5. Kenapa masalah selalu meloloskanku saat keadaan mulai menjepit kita dan
jalan tidak bisa terbuka untu kita mencapai keinginan
6. Mengapa hujan selalu mengiringi kisah kita dikala kita jalan berdua menikmati
hari
7. Kenapa nasibmu selalu sial
8. Kenapa kau tak bisa sabar menghadapi keadaan dan kesusahan
9. Kenapa tak terjadi apa-apa saat aku hidup bersamamu
10. Apa yang kau rasakan saat hidup bersamaku dengan hati yang selalu kau
sembunyikan,
11. Bagaimana kau bisa sanggup menjalani hari dengan berdusta dan berbohong
dengan suara hati bersedangkan dirimu
adalah pekerja di rumah ibadah ,


….……………………………………….Selesai………………………………………………….











Tidak ada komentar:
Posting Komentar